CATATAN PERJALANAN GUNUNG MEKONGGA
17 AGUSTUS 2002
Pendakian Menuju Kerajaan Jin Mekongga
Berawal dari sebuah pemikiran untuk berkeinginan melanjutkan ekspedisi pendakian sebelumnya (tapak bidar I&II), Alm. Yoga Jadayat yang merupakan Rekan/ Senior Anggota Mapala Bina Darma yang mencetuskan awal pemikiran tsb. Yang kemudian merundingkan ke dewan pengurus harian, untuk mengadakan ekspedisi tapak bidar III yang mengambil lokasi di pulau Sulawesi, dengan target Gunung Bawakaraeng( Sul-Sel), Gunung mekongga (Sul-Tra), Gunung Nokilalaki (Sul-teng) Gunung kelabat (Sul-Tra), lalu eksplorasi Bunaken.
Alhasil dari sebuah pemikiran tersebut, Ekspedisi Tapak Bidar III (Sulawesi) dapat berjalan sesuai yang diharapkan. meskipun team sendiri masih menemukan kekurangan, kendati demikian tidak menyurutkan niat kami (team) untuk melanjutkan perjalanan kali ini.
Ada yang Dapat saya ceritakan dari sekian salah satu yang menarik dari perjalanan kali ini, yaitu gunung mekongga yang terletak di sulawesi tenggara, tepatnya di desa Tinukari, kecamatan Ranteangin, kabupaten Kolaka sulawesi Tenggara, yang merupakan salah satu gunung tertinggi di daerah tsb.
Maklum Sebagian masyarakat luas tak banyak mengenal karakteristiknya, akan tetapi, menarik untuk didaki serta disimak cerita misterinya, terutama tentang kerajaan Jinnya.
(Sukma Aldino)
Senin, 12 agustus 2002
Setelah melewati perjalanan, akhirnya kami pun memilih untuk beristirahat di Mahacala unhalu Universitas Halualeo kendari, guna pengumpulan informasi serta persiapan pendakian, sesampainya disana kami pun disambut hangat oleh para anggota Mahacala Unhalu. suasana keakraban pun mulai terjalin. kami diperkenalkan satu persatu anggota, serta tak lupa hidangan pembuka rupanya telah disiapkan oleh mereka. Ah…rasanya capek dan pegal semua ada pada saya (penulis) batapa tidak semua jalur transportasi telah kami lewati semua mulai naik kereta api,bis, serta kapal laut selama 3 hari 3 malam.
Selasa, 13 Agustus 2002
Keesokan paginya 13 agustus 2002, kamipun berangkat menuju gunung mekongga, sebelum pelepasan kami berdoa bersama di sekretrariat unhalu dan berharap pendakian kali ini berjalan sesuai harapan, berdoa mula’i.. selesai. Mekongga..!!! itulah yel teriakan kami bersama.
Sore menjelang maghrib rombongan kami “MABIDAR & MAHACALA UNHALU” tiba di desa tinukari, kecamatan Ranteangin, kabupaten Kolaka sulawesi Tenggara yang merupakan desa kecil yang berjarak/terletak dari 300 Kilometer sebelah barat daya kota kendari.
Matahari perlahan mulai tenggelam dan sayup-sayup di kejauhan terdengar suara azan dari desa sebelah. Mobil sewaan yang kami tumpangi dari kolaka berhenti di depan rumah pak desa. Bergegas, 6 orang anggota tim menurunkan ransel serta barang bawaan lainnya. Sementara saya dan rekan lain memandangi barisan pegunungan Mekongga berdiri dengan megah. Indah, namun sunyi dan menyimpan misteri.
Malam itu kami berbincang-bincang bersama warga dan memetik cengkeh kering yang terletak di lantai rumah kemudian sembari mencicipi teh hangat yang diberikan warga serta kepala desa. ia banyak bercerita mengenai mekongga, berbagai cerita tersebut semakin menambah semangat tim untuk mendaki sampai puncak.
Rabu,14 Agustus 2002
Kamis pagi, 14 agustus 2002. seluruh anggota tim telah siap berangkat. Lalu kami berdoa bersama di halaman rumah bu Tato. Kami berpegangan tangan membentuk lingkaran, lalu berdoa bersama-sama, memohon kemudahan dan keselamatan.
Pendakian bersama ini diikuti 3 orang anggota Mapala Bina Darma Palembang dan 3 orang anggota dari Mahacala Unhalu kendari. Berbagai latar belakang tadi disatukan oleh satu keinginan mendaki puncak Mekongga. Kami adalah satu tim Mekongga.! Begitu tekadnya.
Jam tangan saya menunjukkan waktu pukul 8.00 WITA. Kami memulai perjalanan meninggalkan rumah Bu Tato. Pak desa ikut melepas sambil tak lupa menasehati kami untuk berhati-hati. Lambaian tangan pun melepas kami.
Sehabis jalan aspal desa, kami memasuki jalan setapak di tengah kebun coklat. Perjalanan belum mendapat hambatan berarti. Tak lama kami menemukan sungai cukup lebar, lebih kurang 15 meter,dengan arus cukup deras. Mau tak mau kami pun harus menyeberanginya. Aksi gulung celana tinggi-tinggi pun dilakukan dan air sebatas paha itu berhasil kami lewati.
Lantasan selanjutnya mulai berbahaya. Kami terus menyusuri sungai melawati jalan setapak penebang rotan. Tak jarang kami harus melintas tebing licin di sepanjang sungai. Bila dihitung kami telah melewati sungai sebanyak 4 kali.
Menjelang tengah hari, kami tiba di pertemuan dua (2) sungai, yaitu Aala Mosembo dan Aala tinukari yang merupakan sungai jernih dan menyegarkan, konon sungai tsb.dapat berubah warna kemerahan sebab dahulu air sungai ini dipenuhi dengan darah. Aala artinya sungai dalam bahasa Tolaki.
Di ketinggian 100 mdpl ini, panas terik di atas kepala kami pun perlahan mereda. Kami beristirahat sejenak namun ada pula dari rekan yang mandi guna membasuh keringat yang membasahi tubuh. Untuk persiapan selanjutnya kami makan siang dan berganti pakaian walau tidak semuanya.
Maklum, selepas ini team harus masuk hutan, karena disinilah start pendakian akan dimulai. Beberapa rekan pun terpaksa memasukkan sandal ke dalam carrier.
Sekitar pukul 12 atau 1 siang, perlahan kami mulai bergerak kembali. Ternyata jalur start ini semakin menggila.
Tanjakan terus tanpa bonus, Mengingatkan kami akan gunung Dempo. Perlahan – lahan kami menapaki jalan penebang rotan. Karna vegetasi dominan disini adalah rotan serta tanaman perdu, khas hutan tropis.
Dua jam berlalu sudah, kami tiba di jalan HBI. Sebuah perusahaan kayu yang pernah beroperasi sejak tahun 1996. karna protes masyarakat akibat kerusakan lingkungan yang ditimbulkan, perusahaan ini gulung tikar Th.1999 lalu. Jika tidak, entah apa jadinya pegunungan Mekongga disertai hutan nan indah ini.
Bersama jejak – jejak kotoran anoa yang menemani langkah kami menyusuri bekas-bekas jalan HBI yang telah tertutup ilalang dan rotan, Canda tawa di perjalanan kami pun mulai terdengar dan semakin menyenangkan. Entah mangapa saya sendiri (penulis) tidak dalam kondisi yang fit. Akan tetapi semangat mereka lah yang membuat saya kuat.
Menurut team di ketinggian 490 Mdpl ini, tepatnya pukul 5 sore kami tiba di sebuah pondok kayu milik perotan. Kami memutuskan beristirahat dan mendirikan tenda. Camp 1 telah dicapai ah,..senang rasanya bisa melepas carrier/ransel yang telah disandang seharian. Sosis dan kornet pun menyambut kami sebagai suguhan malam itu serta beberapa logistik yang rasanya selangit..Mantab bro..! di tengah hutan makan begituan. Malam itu kami pun ber-evaluasi bareng guna membahas rencana esok hari.
Kamis, 15 agustus 2002
Keesokan harinya, seperti biasa kami bergegas sarapan dan mengepak bawaan. Mungkin Gara-gara keasyikan mengobrol tadi malam, beberapa teman terlambat bangun, termasuk saya hahaha..:) perjalanan sempat mundur sedikit. Kami pun kembali menyusuri jalan HBI. Ketinggian pun bertambah sedikit demi sedikit.
Sesampainya Di ketinggian 1000 mdpl. Ini, panorama mulai terbuka. Vegetasi tumbuhan kayu pun semakin banyak, antara lain perdu, kantong semar serta lumut. Di sebelah timur tampak jajaran perbukitan mekongga yang tak jelas puncaknya, karna terlihat banyak beberapa puncak.
Perjalanan di hari kedua ini pun semakin melelahkan dan bervariasi, tanjakan dan naik turun jalur, sering kami lewati. Maklum, beginilah jalur pegunungan. Masyarakat disini (tinokari) mengatakan jikalau ada orang baru yang mendaki mekongga pasti disambut hujan lebat.
Beruntungnya siang itu kami tidak kehujanan. Padahal, cuaca mendung serta awan hitam sepertinya mengikuti kami. Untungnya mitos yang kami dengar tidak terjadi, dengan kata lain, alam masih bersahabat.
Sesampainya di camp II (1.480) kami memutuskan untuk beristirahat. Malamnya pun team evalusi guna melihat jalur esok, dengan melihat peta yang kami bawa. Menurut rekan jalur besok semakin menggila. Team hanya menargetkan di ketinggian 2.520 mdpl. Di camp III. Kami pun terlelap di antara hangatnya tenda.
Jumat, 16 agustus 2002
Perjalanan di hari ketiga juga bervariasi. Menjelang tengah hari, di ketinggian 1.900 mdpl.kami mulai meninggalkan jalur HBI. Tampak di kejauhan Osu mosembo tertutup kabut. Osu dalam bahasa tolaki berarti gunung.
Semakin menarik perjalanan di hari ketiga ini. Karena, pergerakan kami hanya ditentukan oleh sudut kompas serta ketinggian berdasarkan jalur yang direncanakan. Rekan dari Mahacala Unhalu menunjukkan peta topografi dengan skala 1: 50.000 dari bakosurtanal yang dibawa cukup membantu, walau kadang menipu.
Karena, banyak punggungan yang tidak terpetakan…Sipur Begitulah panggilan akrab rekan kita dari Mahacala Unhalu. Ia pun menambahkan Pegunungan Mekongga yang menjari kemana mana tsb dapat menyesatkan jikalau kita salah mamilihnya.
Di sepanjang jalur naik – turun punggungan ini pun semakin melelahkan. Lumut serta vegetasi subalpine atau lahan dengan ketinggian lebih dari 2.000 mdpl semakin banyak di sepanjang jalur ini.
Sekitar pukul 3 siang, kami memasuki kompleks bebatuan yang disebut mosero – sero dii ketinggian 2.320 mdpl.
Di tempat inilah sangat diyakini masyarakat daerah kolaka utara sebagai pusat kerajaan jin.
Di sini kami beristirahat sebentar. Terlihat banyak terdapat tumpukan batuan menyerupai meriam. Banyak cerita tentang lokasi ini. Ada yang mengatakan menjelang senja sering terdengar suara azan dari kabah.
Sekitar pukul 5 sore kami tiba di camp III.sepanjang perjalanan kami memasang string line agar tidak lupa menuju jalur balik. Disini mulai tampak dari kejauhan puncak mekongga yang berbentuk kubah batu. Sungguh merupakan suatu perjalanan panjang.
Akan tetapi kami masih harus melewati beberapa punggungan tipis untuk tiba disana. Disini terlihat melalui GPS dengan ketinggian 2.520 mdpl. Alhasil kami berjalan sesuai target. Kami pun beristirahat serta evaluasi untuk melakukan Summit Attack esok pada 17 agustus 2002.
Ternyata serangan kutu babi selama pendakian cukup dahsyat. Salah satu dari rekan kami dievakuasi dengan bedak antiseptik hehe.. lumayan kenang-kenangan dari mekongga._^_.
Sabtu, 17 Agustus 2002
Sabtu 17 agustus 02, kami melanjutkan perjalanan menuju puncak. Sebelumnya pukul 8 pagi seperti biasa kami berdoa bersama sebelum memulai perjalanan. Pergerakan kami pun lumayan enteng, maklum kami hanya membawa daypack serta bawaan seperlunya.
Disini terbukti bahwa Mekongga memang indah. Cantigi dan lumut yang hijau, sungguh menyejukkan pandangan mata kami. Di kejauhan tampak puncak-puncak batu gamping memanggil-manggil untuk menuju ke arahnya. Kami terus berjalan berpindah-pindah punggungan.
Saya bersama rekan-rekan melihat sesuatu bayangan hitam berlari kencang ke bawah. Awalnya saya sangat penasaran, ternyata bayangan misterius tsb merupakan Anoa hewan endemik khas sulawesi. Akan tetapi ada sesuatu yang aneh. menurut literatur, Anoa hanya bisa hidup di ketinggian 1.000 m. tapi ternyata di mekongga, ia dapat sampai ke puncak.
Sekitar pukul 10 siang team tiba di puncak Mekongga.Perasaan bangga serta karunia tuhan yang dapat saya rasakan disini. Awalnya saya ingin menelpon rekan rekan di Palembang serta radio swasta disana. Akan tetapi kendala sinyal, akhirnya kami hanya bisa menghubungi radio Kendari, itupun melalui pesawat HT.
Puncak Mekongga merupakan kompleks bebatuan tajam yang luas. Untuk menuju ke puncak, sebelumnya kita harus memanjat tebing dengan batu lepas – lepas.
Di puncak inilah saya (team) melakukan pengibaran bendera Merah Putih, penuh dengan rasa Nasionalisme dan khidmat. yang dilanjutkan dengan upacara dan doa bersama. Doa penuh syukur dan harapan untuk bangsa ini. Tak lupa kami berfoto serta menikmati pemandangan sejenak.
Selepas makan siang, kami kembali turun ke camp III, mengikuti string line yang kami buat sewaktu naik. Beruntung kami kmbali ke camp sebelum gelap.
Dua malam berikutnya kami tiba kembali di desa tinukari. Kami disambut Pak Desa dan Bu Desa dengan senyuman ramah. Lalu kami disiapkan makan olrh Bu Toto dan kami flashback atas perjalanan yang telah kami lewati.
Tuntas sudah perjalanan kali ini. Akan tetapi Mekongga selalu dihati. Banyak pelajaran yang dapat saya petik dalam perjalanan ini. Namun katakanlah Pendakian slanjutnya belum usai. (Sukma Aldino MBD.01-078/A)
summit Attack on MekonggaPeak
file jAdul.! lumayan